Aksaranusa, Luwu Timur, Sulawesi Selatan — Masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur menyerukan agar pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan Bandara Komersial Luwu Timur sebagai bentuk nyata kehadiran negara di wilayah timur Indonesia. Infrastruktur ini diyakini akan menjadi gerbang utama konektivitas dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Sulawesi.
Seruan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Zakir Sabara HW, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., Wakil Rektor II Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Ia menilai kehadiran bandara bukan sekadar kebutuhan daerah, tetapi simbol pemerataan pembangunan dan keadilan bagi wilayah penghasil energi strategis nasional.
“Luwu Timur tidak meminta istana, kami hanya ingin pintu langit yang membuka masa depan,” ujar Prof. Zakir dalam pernyataannya.
Sebagai wilayah penghasil nikel dan energi terbesar di Sulawesi Selatan, Luwu Timur memiliki posisi geografis strategis karena berbatasan langsung dengan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Pembangunan bandara di wilayah ini akan memperkuat jaringan udara yang efisien bagi tiga provinsi, sekaligus mempercepat arus logistik, pendidikan, dan pariwisata.
Selama lebih dari lima dekade, Luwu Timur menjadi pusat kegiatan industri pertambangan, termasuk PT Vale Indonesia dan puluhan perusahaan IUP lainnya. Namun di balik geliat industrinya, daerah ini tetap mampu menjaga kelestarian alam — terutama di kawasan Danau Matano yang menjadi kebanggaan nasional.
Danau Matano merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan keempat terdalam di dunia, dengan kedalaman mencapai 590 meter. Airnya yang jernih dan ekosistemnya yang lestari menjadi bukti bahwa pembangunan industri dan konservasi alam dapat berjalan seimbang.
Dari danau yang sama, Luwu Timur menyalurkan energi bersih melalui tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menopang pasokan listrik untuk kebutuhan industri dan rumah tangga di berbagai wilayah Sulawesi.
Dengan kontribusi sebesar itu, masyarakat menilai pembangunan Bandara Komersial Luwu Timur sudah menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar wacana. Bandara akan menjadi pemicu kebangkitan ekonomi baru, memperkuat rantai pasok industri hijau Sorowako, serta membuka peluang pariwisata di kawasan Danau Matano, Towuti, dan Mahalona.
“Bandara ini bukan kemewahan, melainkan simbol kehadiran negara dan keadilan pembangunan,” tegas Prof. Zakir.
Ia menambahkan, keberadaan bandara komersial akan menjadikan Luwu Timur sebagai simpul logistik dan mobilitas utama kawasan tengah-timur Sulawesi, yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis energi bersih dan pariwisata berkelanjutan.
Dengan segala potensinya, Luwu Timur disebut layak menjadi “Gerbang Timur Sulawesi dan Indonesia” — wilayah yang menjaga keseimbangan antara industri, alam, dan masa depan bangsa.
“Berilah kami satu bandara, dan kami akan tunjukkan bagaimana Luwu Timur bisa menerbangkan masa depan Indonesia,” demikian pesan masyarakat Luwu Timur kepada pemerintah pusat.(p)





