Oleh: Muh. Sadly Andi Mattoreang
Aksaranusa, Luwu Timur – Setiap 14 Agustus, kita kembali diingatkan pada sebuah gerakan yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan generasi muda Indonesia: Gerakan Pramuka.
Tahun ini, Gerakan Pramuka memasuki usia ke-65. Enam puluh lima tahun bukanlah usia yang singkat. Ia adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan perubahan zaman, pergantian generasi, perkembangan teknologi, hingga perubahan cara anak muda memandang dunia.
Namun, di tengah perayaan HUT ke-65 Pramuka, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan: apakah Pramuka hanya sedang bertambah usia, atau benar-benar sedang bertumbuh?

Pertanyaan itu penting karena zaman telah berubah.
Adik – adik hari ini tumbuh bersama internet, kecerdasan buatan, media sosial, banjir informasi, dan perubahan sosial yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan beberapa dekade lalu. Tantangan mereka bukan lagi hanya soal bagaimana bertahan di alam terbuka, mendirikan tenda, atau menghafal kode kehormatan.
Mereka juga berhadapan dengan persoalan literasi digital, kesehatan mental, perubahan iklim, intoleransi, hoaks, krisis lingkungan, kesenjangan sosial, hingga tantangan masa depan dunia kerja.
Di sinilah Pramuka dituntut untuk kembali menemukan relevansinya.
Pramuka tidak boleh berhenti pada seragam, upacara, perkemahan, dan rutinitas organisasi. Semua itu penting sebagai identitas dan tradisi. Tetapi nilai sebuah gerakan tidak semestinya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari seberapa besar perubahan yang mampu ditinggalkannya.
Jika Pramuka mengajarkan kepemimpinan, maka kita harus melihat lebih banyak generasi muda yang berani mengambil tanggung jawab.
Jika Pramuka mengajarkan pengabdian, maka keberadaan seorang Pramuka harus terasa di tengah masyarakat.
Jika Pramuka berbicara tentang cinta alam, maka anggotanya semestinya menjadi kelompok pertama yang berdiri ketika lingkungan mengalami kerusakan.
Dan jika Pramuka berbicara tentang persatuan, maka perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh.
Pramuka harus hadir sebagai jawaban, bukan sekadar sebagai kegiatan.
HUT ke-65 semestinya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi. Kita perlu berani bertanya apakah pola pembinaan yang selama ini berjalan masih sesuai dengan kebutuhan generasi Z dan generasi Alpha.
Jangan sampai kita meminta adik-adik meninggalkan gawainya, sementara organisasi tidak memberikan ruang bagi mereka untuk memanfaatkan teknologi secara produktif.
Jangan pula kita berbicara tentang kepemimpinan generasi muda, tetapi ruang pengambilan keputusan masih terlalu jauh dari mereka.
Pramuka harus memberikan kesempatan kepada anak muda untuk menjadi pelaku, bukan sekadar peserta.
Mereka harus diberi ruang untuk membuat inovasi, mengelola media, mengembangkan teknologi, melakukan riset sederhana, menginisiasi gerakan lingkungan, membangun kewirausahaan, serta menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Sebab, tantangan terbesar Pramuka hari ini bukan mempertahankan keberadaan organisasi.
Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa keberadaan organisasi masih memiliki arti.
Kita tidak membutuhkan Pramuka yang hanya ramai ketika peringatan HUT. Kita membutuhkan Pramuka yang tetap bekerja ketika panggung sudah dibongkar, spanduk sudah diturunkan, dan tepuk tangan sudah berhenti.
Kita membutuhkan Pramuka yang hadir di sekolah, di desa, di lingkungan masyarakat, di ruang digital, dan di tengah persoalan sosial.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan kepramukaan bukanlah berapa banyak orang yang mengenakan seragam cokelat, melainkan berapa banyak manusia yang tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, peduli, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Maka pada HUT ke-65 ini, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menghitung berapa lama Pramuka telah berdiri.
Lebih penting untuk menghitung berapa banyak perubahan yang telah kita lakukan dan berapa banyak perubahan yang masih harus kita kerjakan.
Enam puluh lima tahun seharusnya bukan sekadar angka usia.
Ia harus menjadi titik refleksi.
Pramuka boleh mempertahankan tradisi, tetapi tidak boleh takut melakukan inovasi. Pramuka boleh menjaga nilai-nilai lama, tetapi harus mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa zaman.
Sebab generasi muda tidak membutuhkan organisasi yang hanya mengatakan bahwa mereka adalah masa depan.
Mereka membutuhkan organisasi yang mempercayai mereka sejak hari ini.
Selamat HUT ke-65 Gerakan Pramuka.
Semoga usia yang semakin matang tidak membuat langkah semakin lambat, tetapi justru menjadikan Pramuka semakin berani beradaptasi, berinovasi, dan mengabdi.
Karena Pramuka bukan sekadar tentang siapa yang memakai seragam hari ini, tetapi tentang manusia seperti apa yang kita persiapkan untuk menghadapi hari esok.(Wars)





