Aksaranusa, Luwu Timur – Pemerintah Kabupaten Luwu Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul tingginya jumlah kejadian kebakaran selama musim kemarau 2026.
Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Luwu Timur, tercatat sebanyak 162 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 103 kejadian di antaranya merupakan kebakaran yang melibatkan lahan, hutan, perkebunan maupun pohon.
Data tersebut menunjukkan kebakaran pada vegetasi menjadi salah satu jenis kejadian yang cukup dominan di wilayah Luwu Timur. Kondisi tersebut semakin terlihat pada Agustus 2026, ketika jumlah kejadian kebakaran mengalami peningkatan tajam.
Sepanjang Agustus, tercatat 78 kejadian kebakaran, jauh lebih tinggi dibandingkan Juli yang mencatat 19 kejadian. Agustus menjadi periode dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak selama delapan bulan pertama 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Luwu Timur, dr. H. April, mengatakan kondisi geografis daerah yang banyak terdiri atas kawasan pegunungan dan perbukitan turut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya penanggulangan bencana.
“Wilayah Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga berbagai ancaman bencana lainnya yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca,” ujar dr. April.
Menghadapi peningkatan kejadian kebakaran, BPBD bersama instansi terkait terus memperkuat koordinasi dalam penanganan di lapangan. Setiap kejadian ditangani melalui sinergi sejumlah unsur, mulai dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Manggala Agni, TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan desa hingga unsur terkait lainnya.
Salah satu penanganan dengan skala cukup besar terjadi di kawasan Jalan Soekarno Hatta, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, pada 27 Agustus 2026.
Kebakaran yang terjadi sejak siang hari tersebut melanda kawasan lahan di sekitar perkantoran Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan area hutan di sekitarnya. Untuk mengendalikan api, pemerintah mengerahkan tim gabungan yang melibatkan Manggala Agni, Damkar, BPBD, Satpol PP, Fire & Rescue PT Vale, Polres Luwu Timur dan TNI.
Luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare. Proses pemadaman berlangsung hingga malam hari lantaran kondisi vegetasi yang kering membuat api relatif cepat menjalar.
Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur kemudian memastikan api berhasil dikendalikan dan petugas melanjutkan proses pendinginan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
“Alhamdulillah, api sudah padam dan sedang dalam tahap pendinginan sekitar pukul 21.00 WITA,” kata dr. April.
Perkuat Pencegahan dari Masyarakat
Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan setelah api muncul. Pemerintah daerah juga mendorong langkah pencegahan melalui edukasi dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Keluarga Tanggap Bencana yang digelar BPBD bersama TP PKK Luwu Timur pada 10 September 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana, khususnya bencana yang berkaitan dengan kondisi hidrometeorologi.
Di tingkat masyarakat, pemerintah juga terus mengingatkan warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, sebelumnya juga turun langsung bersama tim gabungan dalam penanganan kebakaran di kawasan Puncak Indah. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
Dengan tingginya kejadian kebakaran selama musim kemarau, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Api yang awalnya berukuran kecil dapat dengan cepat meluas ketika berhadapan dengan kondisi vegetasi kering dan hembusan angin.
Karena itu, upaya pencegahan dan laporan cepat dari masyarakat dinilai menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar. (wars)





